Biovisi Thio-Rhodo

Biovisi Thio-Rhodo




Cara Aplikasi Biovisi Thio-Rhodo
I. Tambak Intensif. 
Siapkan ThioRhodo dan pasir dengan perbandingan 1 : 3
Cth campuran :
#  1 kg ThioRhodo dan 3 kg Pasir
#  Aduk rata dan tambahkan air secukupnya 
#  Masukkan campuran ke dalam plastik @ 250 gram, kemudian plastik dilobangi kecil kecil
# Tempatkan plastik tersebut di titik lumpur usahakan sampai tenggelam. 

# Lakukan setiap 20 hari dengan perbandingan untuk luasan 1000m2 sebanyak 15-16 titik atau 1 kg ThioRhodo.

II. Tambak Tradisi
Aplikasi pada tambak tradisi, sebaiknya dilakukan secara rutin dengan interval penggunaan setiap 14 hari atau setiap 2 minggu dengan dosis 2 kg Thiorhodo untuk setiap ha atau 30 - 35 titik aplikasi. 

Plastik bisa diikat ke pelampung untuk mempermudah pengambilan plastik supaya tidak menjadi sampah anorganik di tambak. 

Biovisi Thio-Rhodo

Thio-Rhodo  adalah produk probiotik gabungan Bakteri dari golongan Thiobacillus Sp dan Rhodobacter sp. Karena Fungsi, Sifat dan kemampuan adaptasi yang hampir sama, maka kedua golongan bakteri digabung dalam satu kemasan. 

Thiobacillus adalah bakteri chemototroph yang mampu menguraikan senyawa-senyawa kimia sederhana yang beracun menjadi senyawa-senyawa kimia yang tidak beracun. Thiobacillus berperan penting dalam reaksi penguraian sulfur (H2S). Ada beberapa macam spesies bakteri thiobacillus, diantaranya T. denitrificans, T. thiooxidans, T. novellus dan T. ferooxidans. Masing-masing spesies bakteri punya kerja yang spesifik, beberapa spesies thiobacillus efektif pada pH rendah dan beberapa spesies efektif pada pH tinggi. Selain itu masing-masing spesies punya fungsi tambahan yang spesifik  sbb: Thiobacillus denitrificans berfungsi menetralkan racun H2S dan nitrit melalui reaksi denitrifikasi, Thiobacillus ferrooxidans dapat menetralkan racun H2S dan mengoksidasi ion besi yang menghambat respirasi dan pertumbuhan, Thiobacillus thiooxidans berfungsi mengoksidasi senyawa sulfur menjadi senyawa yang tidak beracun dan menstabilkan air dan Thiobacillus novellus dapat menetralkan racun H2S dalam lingkungan yang sangat asam. 

Bakteri thiobacillus bekerja dengan sistem reaksi oksidasi-reduksi pada senyawa-senyawa sulfur (H2S). Senyawa H2S ada sebagai hasil proses dekomposisi bahan organik dan air tambak yang banyak mengandung sulfat. Senyawa H2S ini dapat dideteksi dengan jelas pada saat melakukan pengeringan. Dasar tambak yang mengandung banyak sulfur (H2S) akan bewarna hitam dan tercium bau belerang. Kadar senyawa H2S sebaiknya di bawah 0,1 mg/l. Senyawa H2S dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat, penurunan daya tahan terhadap penyakit dan meningkatnya kematian udang dan ikan.

Disamping mengkonsumsi H2S, Tiobacillus denitrificans juga menguraikan nitrat (NO3) menjadi nitrogen (N2) yang dilepas ke udara melalui proses denitrifikasi sesuai reaksi berikut:

NO3 àNO2--àNO-àN2 (N2 dilepaskan ke udara)

Sehingga dalam kondisi tertentu bakteri ini mampu berkompetisi dengan plankton dalam memperebutkan nitrat, yang berdampak pada reaksi kesetimbangan populasi plankton dan bakteri, sehingga performa air lebih stabil.

Aplikasi produk ini sangat bermanfaat untuk menetralisir gas-gas beracun seperti NH3, H2S, dan zat besi tanpa mengurangi oksigen dasar kolam dan mencegah udang terserang MIO dan WFD
 
Hati hati dengan H2S (Hidrogen Sulfida).

Hidrogen Sulfida sering menjadi penyebab kegagalan panen udang. Hidrogen Sulfida (H2S) membunuh udang secara perlahan, sedikit demi sedikit setiap hari pada malam hari.
Hidrogen sulfida adalah gas tidak berwarna dan berbau seperti telur busuk. H2S beracun, korosif menyebabkan berkarat pada logam tertentu, dan mudah terbakar.
Pada tambak udang, H2S bersumber dari lapisan bawah, lumpur dan kotoran. Mendeteksi gas Hidorgen Sulfida lebih sulit dibandingkan mendeteksi Amonia dan Nitrit.
H2S membatasi udang mendapatkan oksigen di dalam tambak. Akibatnya udang jadi lemah, lamban dan rentan terhadap serangan penyakit. Insang, jaringan hepatopankreas dan dinding usus udang mengalami kerusakan. 

Tingkat toleransi ikan terhadap kadar H2S adalah 0,002 ppm. Sedangkan pada udang windu tingkat toleransinya adalah 0,033 ppm. Pada udang Vanamie, tingkat toleransi terhadap H2S adalah 0,0185 ppm.
Kondisi pH, suhu dan oksigen terlarut (DO) rendah dalam tambak membuat H2S lebih berbahaya. DO lebih tinggi dari 3 ppm membantu memblokir pengeluaran H2S dalam tambak. Karena itu pembudidaya perlu mengontrol kondisi pH, suhu dan DO air tambak untuk mencegah timbulnya Hidrogen Sulfida.

Komposisi : Thiobacillus denitrificans, T thiooxidansT ferooxidans, T novellus, Rhodobacter capsulatus, Rhodopseudomonas palustris TPC 108-109 CFU; skim milk; molasses

Manfaat : menetralkan racun H2S, mengoksidasi ion Fe yang menghambat pertumbuhan, mencegah MIO dan WFD pada udang.

Secara singkat, H2S terbentuk dari:

  • Sisa atau buangan dari proses penguraian bahan-bahan organic, seperti sisa pakan, bangkai udang/ikan dan plankton yang terdapat di dasar tambak.
  • Proses reduksi sulfat (SO42) oleh kelompok bakteri pereduksi sulfur.
H2S umumnya bersifat toksik bagi kebanyakan bakteria, namun ada sekelompok bakteri tertentu yang mampu menggunakan H2S sebagai sumber energid an pertumbuhannya. Bakteri fotosintetik anoksigenik (BFA) seperti Rhodobacter, Rhodopseudomonas, Rhodospirillum dan lain-lain serta bakteri golongan chemolitotrof akan mengoksidasi H2S menjadi sulfit (SO32-) dan selanjutnya sulfit diubah menjadi sulfat (SO42) yang tidak beracun.
Karena proses pembentukannya yang tanpa oksigen, H2S hanya akan dijumpai dalam lumpur dasar tambak / di dekat perbatasan antara permukaan endapan lumpur dan air tambak. Jika air dan lumpur di dasar tambak terusik karena arus air, kegiatan siphon atau saat hewan makan di atas lumpur tersebut, maka besar kemungkinan H2S akan berkontak dengan udang/ikan dan menyebabkan kondisi keracunan H2S. Jika tercium bau telur busuk saat endapan di dasar tambak dibongkar, itu merupakan indikasi terjadinya kondisi anaerob dan adanya gas H2S. Secara praktis, jika kita mampu mencium bau telur busuk dari lumpur tambak, maka itu sepadan dengan kira-kira 0.0047 ppm. Konsentrasi H2S ideal untuk di tambak adalah 0 (nol).
Ancaman H2S bagi hewan akuatik di antaranya adalah kerusakan pada insang, stress, hingga kematian. Jika hewan terpapar H2S dalam konsentrasi medium dan dalam waktu yang lama, gejala yang mungkin timbul adalah berkurangnya nafsu makan, pertumbuhan yang lambat, peningkatan kerentanan terhadap serangan bibt penyakit lain dan parasite, hingga terjadinya peningkatan kematian.
Keberadaan H2S di dalam tambak dipengaruhi oleh pH, suhu dan kadar DO. Toksisitas H2S tertinggi adalah pada pH <6,5. Tambak udang umumnya memiliki kisaran pH 7 – 9, namun patut kita waspada jika sewaktu-waktu terjadi penurunan pH yang disebabkan oleh respirasi alga terutama pada dini hari. 
Berlawanan dengan pH, toksisitas H2S meningkat di suhu tinggi dan sebaliknya, DO yang tinggi akan menurunkan toksisitas H2S karena keberadaan oksigen dapat mengubah H2S menjadi bentuk ion yang tidak bersifat non-toksik.
Patut diingat bahwa proses terbentuknya H2S adalah bagian dari siklus Sulfur yang akan terus terjadi di tambak. Cara terbaik untuk mengatasi H2S adalah dengan melakukan pencegahan terakumulasinya gas toksik tersebut di dasar tambak, yaitu dengan menambahkan probiotik Bacillus subtilis yang berfungsi sebagai pengurai bahan organik, serta Thiobacillus. Bakteri Thiobacillus bekerja dengan cara sistem reaksi oksidasi-reduksi pada senyawa-senyawa sulfur. Beberapa spesies thiobacillus yang direkomendasikan untuk pencegahan H2S adalah:
Thiobacillus denitrificans Berfungsi untuk menetralkan H2S dan Nitrit melalui reaksi denitrifikasi
Thiobacillus ferooxidans Dapat menetralkan racun H2S dan mengoksidasi ion besi yang menghambat respirasi dan pertumbuhan udang
Thiobacillus thiooxidans Berfungsi mengoksidasi senyawa sulfur menjadi senyawa yang tidak beracun dan menstabilkan air
Thiobacillus novellus Dapat menetralkan racun H2S dalam lingkungan dasar tambak yang sangat asam pada lahan gambut dan pirit



Rhodobacter sp.  
Rhodobacter sphaeroides atau bakteri ungu adalah salah satu bakteri yang dapat berfotosintesis. Pigmen yang berperan menangkap cahaya untuk fotosintesis adalah bakterioklorofil yang berada pada membran fotosintesis. Bakteri ini memiliki sistem membran yang terbentuk akibat invaginasi membran sitoplasma. Bakteri ini dapat hidup pada kondisi aerob maupun anaerob, dapat melakukan fotosintesis maupun fermentase. Bakteri ini juga dapat melakukan fiksasi nitrogen dan karbondioksida serta sintesis tetrapiroles, klorofil, heme, dan vitamin B12. 

Bakteri ini merupakan kelompok proteobakteria sub divisi alfa. Kelompok ini merupakan kelompok bakteri dengan keragaman metabolisme yang paling tinggi, sehingga dapat tumbuh pada berbagai variasi kondisi pertumbuhan. Medium pertumbuhan yang digunakan untuk mengkulturkan bakteri ini biasanya adalah medium minimal Sistrom's dan cairan luria (LB). Medium minimal Sistrom's digunakan dalam setiap keperluan pertumbuhan bakteri ini, sedangkan cairan luria untuk persiapan isolasi DNA. Pada medium cair maupun padat, bakteri ini ditumbuhkan pada suhu 28-30 °C selama 3-4 hari.

Bakteri yang memiliki koloni berwarna ungu ini memiliki kemampuan mendetoksifikasi sejumlah logam sehingga banyak dimanfaatkan untuk bioremediasi. Galur ini merupakan yang pertama kali ditemukan sebagai bakteri yang hidup bebas dengan aktivitas quorum sensing.

Rhodobacter, Rhodopseudomonas, Rhodospirillum dan lain-lain serta bakteri golongan chemolitotrof akan mengoksidasi H2S menjadi sulfit (SO32-) dan selanjutnya sulfit diubah menjadi sulfat (SO42) yang tidak beracun.
  • Mampu mengoptimalkan pH air melalui dominasi bakteri yang menguntungkan.
  • NH3 dan NO2 di air dan tanah dasar dapat terurai dengan baik.
  • Lumpur organik dapat terurai secara biologis.
  • Dominasi bakteri serta plankton yang menguntungkan dapat meningkat.
  • Resiko penyakit pada udang dapat diminimalisir.
Rhodobacter capsulatus dan Rhodopseudomonas palustris yang merupakan bakteri fotosintesis yang memerlukan sinar matahari sebagai sumber energi. Kedua bakteri ini bersifat fakultatif anaerob. 

Kedua bakteri ini bersama-sama berfungsi untuk menguraikan senyawa H2S dan bahan organik lainnya pada dasar kolam atau tambak serta dapat berfungsi untuk biodegradasi lumpur dasar kolam atau tambak. 


Rhodobacter spaeroides hidup pada lingkungan perairan tenang seperti danau, rawa, ataupun tempat-tempat pertambakan budidaya biota air. Bakteri ini dapat hidup pada lingkungan aerob maupun anaerob.



Rhodobacter spaeroides mampu mendetoksifikasi sejumlah senyawa toksik sehingga dapat dimanfaatkan untuk bioremediasi. Bioremediasi dengan memanfaatkan bakteri ini biasanya dilakukan pada lingkungan perairan, terutama pada tempat pertambakan biota air seperti pertambakan ikan dan pertambakan udang.



Hal tersebut karena Rhodobacteria spaeroides mampu memfiksasi nitrogen, mengubah senyawa amonia dalam kolam menjadi nitrit atau nitrat (proses nitrifikasi), dan mengubah senyawa sulfid dalam kolam menjadi sulfat. Senyawa amonia dapat bersifat toksik apabila konsentrasinya telah melebihi ambang batas normal, menurut (Badjoeri, 2006) konsentrasi amonia dikatakan normal apabila bernilai 5 0,012 mg/L. Begitu juga dengan senyawa sulfid seperti Hidrogen sulfida (H2S), apabila tidak dioksidasi menjadi senyawa sulfat akan bersifat toksik yang dapat membunuh ikan, udang, atau hewan tambak pada umumnya.



Pencemaran lingkungan perairan seperti pertambakan ikan dan udang oleh bahan organik seperti senyawa toksik yang telah dijelaskan diatas  pada umumnya berasal dari limbah industri dan domestik, yang dalam beberapa tahun terakhiir ini terus meningkat (GUNALAN 1993). Pencemaran pada perairan budidaya selain berasal dari limbah industri clan domestik juga berasal dari sisa pakan buatan (pelet) dan feces hewan yang dibudidayakan.



Tingginya akumulasi bahan organik di tambak udang dapat menimbulkan beberapa dampak yang merugikan yaitu, 1). memacu pertumbuhan mikroorganisme heteroirofk dan bakteri patogen, 2). eutrofkasi, 3). terbentuknya senyawa toksik (amonia dan nitrit) serta Hidrogen sulfida H2S, dan 4). menurunnya konsentrasi oksigen terlarut (WIDIYANTO, 2006). Maka dari itulah bakteri Rhodobacter spaeroides sangat berperan penting untuk bioremediasi pada lingkungan pertambakan hewan air. Selain itu juga bakteri ini dapat dikatakan berperan dalam siklus sulfur dan nitrogen dalam ekosistem karena dapat melakukan pengionisasian terhadap senyawa sulfid menjadi sulfat dan melakukan proses ninterifikasi yaitu mengubah senyawa amonia menjadi nitrit atau nitrat.



Pemberian bakteri ini sebagai agen bioremediasi ke dalam tambak ikan dan udang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan bakteri yang berperan dalam proses remineralisasi unsur hara nitrogen juga sulfur dan membantu proses purifikasi alamiah (self purification) dalam siklus nitrogen dan siklus belerang. Serta menjaga keseimbangan kondisi kualitas air di tambak hewan air. Karena Pemeliharaan kualitas/mutu air sangat dibutuhkan untuk menunjang kelulushidupan dan pertumbuhan optimal dari biota yang dibudidayakan. Beberapa parameter kualitas air yang perlu mendapatkan perhatian menurut (Hefni, 1996) antara lain adalah : Oksigen terlarut (disolved oxigen) (O2), pH (derajat keasaman dan kebasaan air), Salinitas (kadar garam), Karbondioksida (CO2), Asam belerang (H2S),Ammoniak (NH3) dan Nitrit (NO2).

Komposisi : Rhodobacter capsulatus, Rhodopseudomonas palustris TPC 10 8 -10 9 CFU 

Manfaat : Menguraikan senyawa H2S dan bahan organik lain pada dasar kolam/tambah, menjaga pH optimum dalam lingkungan air, biodegradasi lumpur 

Aturan pemakaian Thio-Rhodo :
-          Tahap persiapan : berikan 0,5 ppm
-          Tahap awal : berikan 0,5 ppm per 10hari
-          Tahap lanjutan : berikan 1 ppm per 5 hari

NB. Untuk ketepatan sasaran aplikasi Thiobacillus, Thio-Rhodo bisa dicampur dengan tepung kanji dan air, dibentuk seperti pentol yang didalamnya diisi pemberat seperti kerikil untuk bisa ditempatkan di dasar tambak sesuai keinginan. 
Sedangkan aplikasi Thio-rhodo untuk 


Reaksi Thio-Rhodo dalam perairan/ lumpur tambak adalah 

Bakteri Rhodobacter

                                                     Cahaya
            CO2     +          H2S      --------->              (CH2O)            +  H2O  +  2S

Penumpukan bahan organik (sisa pakan, feces udang dan self purification tidak berjalan) akan merangsang pertumbuhan (blooming) mikroorganisme plankton dan penyakit (bakteri, jamur, protozoa dan virus), serta akan dapat meningkatkan produk senyawa metabolit toksik (H2S, Nitrit, Ammonia).



C. Thiobacillus sp.
1. Thiobacillus denitrificans

Merupakan bakteri chemotothroph yang mampu menguraikan senyawa-senyawa kimia rantai pendek yang sangat beracun menjadi senyawa senyawa kimia yang tidak beracun. Thiobacillus berperan penting dalam reaksi penguraian sulfur (H2S). Senyawa H2S terdapat di tambak sebagai hasil proses dekomposisi bahan organic dan air laut yang banyak mengandung sulfat. Senyawa H2S ini dapat dideteksi dengan jelas pada saat melakukan pengeringan dasar tambak. Dasar tambak yang mengandung banyak sulfur (H2S) akan berwarna hitam dan tercium bau belerang. Kadar senyawa H2S di tambak pembesaran sebaiknya di bawah 0,1 mg/ltr. Senyawa H2S dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat, penurunan terhadap daya tahan penyakit, dan meningkatkan kematian pada udang dan ikan. Thiobacillus denitrificans berfungsi menetralkan racun H2S dan nitrit melalui reaksi denitrifikasi.
2. Thiobacillus ferrooksidans
Bakteri ini merupakan bakteri kemolitotrof yang mampu memisahkan logam dari bijinya berasal dari hasil oksidasi senyawa anorganik khususnya senyawa besi dan belerang. Oleh karenanya bakteri ini sangat disarankan untuk penanggulangan tambak pirit ( mengandung zat besi berlebihan). Keuntungan dan kerugian penggunaan bakteri Thiobacillus ferrooksidans sb :
A Keuntungan :
Thiobacillus ferrooksidans akan mengoksidasi senyawa besi belerang (besi sulfide) di sekelilingnya. Proses ini membebaskan sejumlah energy yang akan digunakan untuk membentuk senyawa yang diperlukan dan menghasilkan senyawa asam sulfat dan besi sulfat.
Thiobacillus ferrooksidans merupakan bakteri kemolitotrof , dimana bakteri kemo dapat amengambil dan mengumpulkan ion-ion logam beracun sehingga bermanfaat untuk memindahkan polutan dari air limbah, Usaha memperbaiki kualitas lahan termasuk dan tanah dan air serta pencemaran dengan menggunakan mikroorganisme disebut bioremediasi.
D. Nitrosomonas dan Nitrobacter
Ada beberapa jenis bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter dan strain banyak di antara spesies-spesies. Sebagian besar informasi ini dapat diterapkan untuk jenis Nitrosomonas dan Nitrobacter pada umumnya, bagaimanapun, strain masing-masing memiliki toleransi tertentu terhadap faktor lingkungan dan preferensi nutrisi yang tidak dimiliki oleh lainnya, sangat terkait erat.

Faktor Fisika-Kimia yang mempengaruhi proses nitrifikasi :
1. DO (Dissolved Oxygen)
• Oksigen merupakan gaster larut yang memiliki peranan penting dalam nitrifikasi (min. 1 mg/L)
• Untuk respirasi organisme akuatik dan mikroorganisme aerobik
• Mendegradasi zat sisa organik
• Membantu menyelesaikan jalur metabolisme
• Tinggi rendahnya DO dipengaruhi oleh kelarutan gas, tekanan udara, suhu, konsentrasi materi tersuspensi, kerapatan biomassa, salinitas.
• Kelarutan oksigen berkolerasi terbalik dengan suhu dan salinitas. Semakin tinggi suhu atau salinitas semakin rendah konsentrasi oksigen terlarutnya.

2. Suhu
• Suhu optimum untuk aktivitas bakteri 25 -35 oC
• Proses nitrifikasi terhenti pada saat suhu meningkat hingga 50 oC.
• Bakteri produksi metan akan inaktif bila suhu turun menjadi15 oC; Bakteri autotrof nitrifikasi berhenti berfungsi pada suhu 5 oC; Bakteri kemoheterotrof yang merombak materi berkarbon menjadi dorman apabila suhu air 2 oC.
• Suhu optimum bagi proses nitrifikasi adalah 28 oC

3. pH
• Indikator yang menyatakan konsentrasi hidrogen di dalam medium.
• pH rendah menghambat pertumbuhan organisme nitrifikasi dan mendorong pertumbuhan organisme berfilamen.
• pH optimum bagi bakteri nitrifikasi 7.2-9.0; 7.5-8,6

4. Konsentrasi Substrat (Amonia, nitrit, alkali)
• Besarnya jumlah substrat penghasil energi yang tersedia merupakan salah satu faktor pembatas yang menentukan kinerja biofilter secara umum.
• Semakin besar amonia, nitrit, dan alkali semakin tinggi pula laju nitrifikasi dan semakin tebal pula biofilm yang terbentuk.

5. Nutriment
Semua jenis Nitrosomonas menggunakan amonia (NH3) sebagai sumber energi selama konversi kepada nitrit (NO2). Amonia pertama-tama diubah (terhidrolisis) untuk amina (NH2) senyawa kemudian dioksidasi menjadi nitrit. Proses konversi memungkinkan Nitrosomonas untuk memanfaatkan senyawa amina beberapa sederhana seperti yang dibentuk oleh konversi amonia dengan Penghilang amonia kimia.

6. Warna dan Bau
Sel-sel bakteri nitrifikasi memiliki warna kemerahan (Nitrosomonas) sampai kecoklatan (Nitrobacter)

E. Bakteri Pengikat Nitrogen
Rhodobacter capsulatus
Rhodopseudomonas palustri
Azotobacter vinelandii


Pemesanan silahkan di 089503170460
Tidak dijual di toko.
SHARE
Subscribe to get free updates

Related Posts

There is no other posts in this category.

Post a Comment

Iklan Tengah Post