Bertani Hemat dan Untung dengan Pupuk Hayati Cair BIOVISI (tulisan I)

Bertani Hemat dan Untung dengan Pupuk Hayati Cair BIOVISI (tulisan I)



TAHUKAN ANDA ..

Kenapa ...
# Bunga kopi sering rontok ??
# Setengah batang kopi patah padahal buahnya banyak??
# Produksi buah kopi terus menurun??
# Daun kopi menguning, rontok dan tanaman kopi kurus???

Penyebab semuanya itu adalah cara budidaya kopi modern yang kurang tepat.
Berawal dari sifat kopi yang sebenarnya liar (termasuk tanaman hutan sama seperti karet dan coklat) tetapi dibudidaya mengandalkan pupuk kimia, semprot pestisida dan herbisida membuat sifat alaminya terganggu dan akibatnya susah dikendalikan karena pemupukan hampir tidak bereaksi dan pada akhirnya musnah.

Sudah banyak laporan bahwa daerah yang sebelumnya lumbung kopi, sekarang tinggal sejarah. Kalaupun masih ada tanaman kopi tetapi hasilnya sudah tidak sebanding dengan biaya perawatan, luas lahan dan kalah dibanding dengan budidaya tanaman lain.
Sebut saja daerah Kabupaten Tapanuli Utara. Kecamatan Pangaribuan, Garoga, Sipahutar yang dulunya tergolong lumbung kopi, sekarang sudah semakin berkurang dan tergantikan dengan budidaya jagung, jeruk, dll.


Dari hasil penelusuran (tim) Biovisi Nature Product. Ltd. yaitu Ibu Risnauli Simatupang https://www.facebook.com/risnauli.simatupang,  bahwa permasalahan yang sebenarnya kenapa hal tersebut bisa terjadi adalah transformasi ilmu budidaya dan pendampingan petani yang kurang.

Banyak petani yang sebelumnya gigih dengan usaha pertanian kopi, tetapi seiring kondisi tanaman yang semakin susah dirawat membuat semangat menurun bahkan beralih ke budidaya tanaman lain.   Hamparan kebun kopi yang dulunya hijau, belakangan terlihat menguning atau "ranggason" istilah di toba.

Masih ada yang bertahan dengan budidaya kopi?? masih.. harga kopi yang relatif stabil dan bahkan semakin meningkat seiring promosi minum kopi dikalangan anak anak muda zaman sekarang sepertinya sudah merupakan kebutuhan. Cobalah berjalan mulai sore sampai malam, baik di daerah produsen kopi maupun di kota kota besar, ibarat jamur dimusim hujan, warung kopi (warkopp wifi) seperti berlomba menawarkan kopi hasil seduhan sendiri. Kalau dahulu peminum kopi di dominasi bapak bapak di warung (lapo) dan terkesan old, maka sekarang anak anak muda baik laki laki maupun perempuan sudah tidak asing lagi dengan dunia ngopi sambil online HP di warkop.

Bahkan tercatat, sang Presiden pilihan rakyat Bapak Jokowi https://lifestyle.okezone.com/read/2019/03/15/298/2030279/ini-kedai-kopi-legendaris-tempat-jokowi-ngopi-di-balige ketika berkunjung ke Balige di Sumatera Utara, menyempatkan diri mampir di sebuah warung kopi di kota kecil pinggiran danau toba tersebut. Dan ini secara bisnis depelopment sudah merupakan madu tetes yang tinggal teguk bagi para pelaku bisnis zaman now.

Saya kurang tahu pasti datanya, tetapi saya yakin bahwa konsumsi kopi dalam negeri dalam 5 tahun terakhir pasti meningkat signifikan. Dan itu otomatis menjadi pendapatan perkapita negara karena masyarakat membelanjakan uangnya di negera ini. Dan sudah pasti bisnis kopi baik budidaya maupun penyajian dalam bentuk minuman kopi menjadi idola baru yang tergolong usaha padat karya dengan modal kecil.

Bagaimana Peluang Budidaya kopi ke depan ???

Tercatat beberapa perusahaan penghasil kopi dalam negeri seperti PT. Toarco Jaya di Toraja, PT. Sulotko Jaya Abadi juga di Toraja, PTPN IX, Anak perusahaan Starbucks, dan beberapa perusahaan lain baik investasi dalam maupun luar negeri dalam budidaya kopi dengan mengembangkan sistem budidaya yang ramah lingkungan, menyesuaikan fisiologi tanaman kopi dengan cara budidaya organik, mengembangkan budadaya berkesinambungan mengandalkan tanaman pelindung, memaksimalkan pupuk organik dan meminimalisir penggunaan racun dan pupuk kimia.

Pada akhirnya, hanya mereka yang mau berusaha, belajar dan mengerti keinginan tanaman kopilah yang akan bisa bertahan karena saingan petani kopi adalah perusahaan perusahaan raksasa yang memiliki sdm, permodalan dan akses yang sangat besar baik dalam negeri maupun eksport.

Melihat hal tersebut, kami dari tim Biovisi.id (tim Biovisi Nature Product.Lmt) di dunia maya mencoba menawarkan cara budidaya kopi yang hemat, menguntungkan dan berkesinambungan mengandalkan produk unggulan kami yaitu https://www.biovisi.id/.


Bagaimana hal ini bisa terjadi??? berikut penjelasan yang mudah, lengkap dan kami yakin bisa dimengerti oleh orang awam sekalipun dalam bidang budidaya kopi.

1. Tanaman kopi membutuhkan kondisi tanah gembur, kaya akan bahan organik, kelembaban tinggi, unsur hara makro terutama mikro yang cukup dan sdm yang mumpuni terutama ketelatenan (tidak harus lulusan sekolah yang tinggi).
2. Cara aplikasi Pupuk Hayati Cair Biovisi tergolong mudah dilakukan, karena hanya membutuhkan bahan bahan pendukung yang mudah didapat seperti : tetes tebu/ air gula merah/ gula putih, ragi roti/ raru (kulit kayu utk arak batak), pupuk kandang, air tanah/ sumur dan alat alatnya juga mudah didapat seperti drum plastik atau bisa dibuatkan lubang/bak beton, apalagi sekarang ini listrik sudah menyala sampai ke desa desa karena terkadang dibutuhkan tenaga listrik untuk menghidupkan pemanas (heater) dan aerator pendukung proses fermentase Biovisi.
3. Harga murah (2 liter Pupuk Hayati Cair Biovisi) cukup untuk sekali pemupukan tanaman kopi sebanyak 200 pokok. Sehingga jika 1 ha kopi dgn populasi 1600 pokok kopi cukup 8 liter.
4. Memanfaatkan bahan bahan terbuang yang ada disekitar lahan dengan proses fermentase/ pengomposan bisa menjadi pupuk organik. Hal ini tentu saja akan mengurangi biaya pembelian pupuk.
5. Sistem budidaya kopi dengan Pupuk Hayati Cair Biovisi bisa meningkatkan usia tanaman karena lebih alami dan lebih sesuai dengan keinginan tanaman kopi.
6. Pendampingan dan manajemen budidaya serta pemasaran bisa kami lakukan tanpa menambah biaya lagi..
7. BIovisi yang sudah tersedia di daerah, menjadi jaminan petani bisa memperolehnya dengan mudah dan harga terjangkau... bersambung
Baca Juga
SHARE
Subscribe to get free updates

Related Posts

Post a Comment

Iklan Tengah Post