Ini dia Penanganan air kolam ikan dengan pH tinggi (basa) dan pH rendah (asam)

Ini dia Penanganan air kolam ikan dengan pH tinggi (basa) dan pH rendah (asam)

pH air kolam ikan sering disepelekan oleh peternak ikan. Mayoritas belum mempunyai alat pengukur pH dan kalaupun ada, tidak paham cara menggunakannya supaya memperoleh hasil yang  teliti. Pengukuran pH air juga akan berbeda jika diukur pada siang dan malam hari. Sehingga tidak bisa dijadikan patokan jika pengukuran hanya dilakukan pada sian atau malam saja, tetapi harus dilakukan kedua duanya, sehingga dapat memahami bahwa air kolam/ air sumber itu sudah sesuai atau belum untuk digunakan. 
Permasalahan baru muncul ketika terjadi berbagai hal yang mengganggu pertumbuhan ikan seperti air yang cepat bau, ikan yang mengambang, ikan buncit (terutama ikan kecil), sering terkena penyakit yang disebabkan oleh jamur seperti kumis keriting, moncong putih, badan ikan yang dipenuhi bercak putih bahkan ada yang sampai mengelupas dan kematian ikan yang tinggi sehingga bukan keuntungan yang diperoleh malah kerugian. Dan tidak sedikit yang sudah menyerah dan gulung tikar karena sudah tidak mampu lagi membiayai budidaya ikan dengan banyaknya permasalahan yang timbul selama pemeliharaan ikan.

Untuk budidaya ikan di kolam buatan (terpal/ beton)  konvensional/ secara umum yang dilakukan terutama di jawa ini, kami akan memberikan beberapa pemahaman tentang pH air dengan atau tanpa menggunakan alat ukur pH meter.

Secara umum pH air diartikan adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasahan air. derajat pH normal adalah 7. Jika diatas 7 cenderung basa (agak basa, basa dan sangat basa) jika di bawah  7 disebut cenderung asam (agak asam, asam dan sangat asam).

Kegunaan diketahuinya pH air sumber untuk kolam ikan terutama adalah untuk menyesuaikan dengan daya adaptasi ikan terhadap pH air tersebut. Sebagai contoh, toleransi ikan lele terhadap pH air adalah di kisaran 6,8 - 7,4. Artinya jika pH air dibawah 6,8 maka toleransi ikan akan menurun demikian juga kalau pH air diatas 7,4.

Sebagai acuan yang sering terjadi dewasa ini dalam budidaya ikan lele dikolam buatan (terpal/ beton), sebagai akibat pH air yang tidak sesuai adalah :

I. Pengaruh pH air tinggi (basa) terhadap ikan.
1. Ikan buncit (perutnya buncit terisi air) terutama banyak menyerang ikan yang kecil (baru ditebar).
Hasil pengamatan dan penelitian kami menyimpulkan bahwa hal ini terjadi karena perbedaan pH tubuh ikan dengan pH air kolam. Kasus seperti ini sering terjadi pada bibit ikan yang didatangkan dari daerah lain yang mana pH air dipembibitan lebih rendah dari pH air dikolam pemeliharaan. Sehingga pH tubuh ikan lebih rendah (lebih asam) dibanding pH air kolam pemeliharaan menyebabkan tubuh ikan menyerap air dan tertampung di gelembung renang ikan. Ikan tetap lincah, nafsu makan masih tinggi tetapi lama lama seiring semakin membesarnya perut ikan, akan membatasi pergerakan ikan dan bisa menyebabkan kematian.
Kesimpulan kasus ini adalah pH air pemeliharaan terlalu basa sehingga perlu diturunkan pH airnya untuk mengimbangi pH tubuh ikan sehingga tidak terjadi perut yang gembung/ membesar.



2. Warna air yang susah ditumbuhi plankton (warna air sulit menjadi hijau tetapi cenderung coklat kekuningan dan air cepat bau, ikan mengambang dan bahkan bergerombol di permukaan kolam.


II. Pengaruh pH rendah terhadap ikan

1.  Drop plankton atau plankton
Yaitu plankton yang sudah terbentuk tiba tiba mati dan menyebabkan pH air semakin asam karena plankton yang mati langsung diuraikan bakteri sehingga menambah bahan organik dalam air.
Efek terhadap ikan adalah ikan ikan mengeluarkan buih dan lendir karena mengalami tingkat stress berat. Suhu yang naik karena penguraian bakteri terhadap plankton dan produksi CO2 yang tinggi akan menambah keasaman air.
Solusi terbaik adalah dengan pengapuran dan kalau memungkinkan dilakukan penggantian air sedikit demi sedikit supaya bisa mengurangi stress ikan.


Solusi dan penanganan :

1. pH air yang basa (tinggi) diatas 7,4

Pada umumnya pH air basa yang berasal dari sumber air yang basa seperti air PDAM (karena mengandung kapur/ kaporit), sumber air sumur di daerah yang pernah terkena letusan gunung berapi (karena mengandung abu vulkanik) dan sumber air pada daerah daerah yang curah hujan sedikit sepanjang tahun.

Pengaruh pH air tinggi pada air kolam terutama terjadi pada awal awal pemeliharaan karena bahan organik yang masih sedikit belum bisa merubah pH air basa dari sumber air masuk.

Cara penanganan :
a. Untuk persiapan awal kolam air, Isilah dengan air dari sumber maksimal 50 % dan sisanya diambil dari air kolam yang sudh ada ikan yang besar (menjelang panen) karena sudah mengandung banyak bahan organik sehingga bisa menurunkan pH air sebelum diisi bibit ikan.
b. Jika tidak memungkinkan mendapatkan air dari kolam yang sudah berisi ikan, maka persiapan air ada perlakuan khusus yaitu penambahan bahan organik. Caranya :
- Isi kolam 50 - 60 cm
- Masukkan kotoran hewan (ayam, sapi atau hewan lain) usahakan jangan yang masih baru sebanyak 1 - 2 kg / M3 air kolam.
- Kalau pemberian kotoran hewan dirasa kurang tepat, boleh diganti dengan : tepung ikan, tepung kacang kedelai dan katul/ dedak dengan dosis 1-2 kg/ M3 air.

Sebelum bahan organik ditebar ke kolam, sebaiknya difermentase dulu dengan probiotik "Biovisi Nitro" sangat kami anjurkan karena mengandung bakteri nitrifikasi yang sangat bagus untuk membantu menguraikan bahan organik tersebut supaya tidak terlalu lama supaya diisi bibit.


Setelah difermentase selama 3 x 24 jam secara tertutup (anaerob) selanjutnya bahan organik tersebut ditebar ke dalam air kolam. Selanjutnya air kolam disiram lagi dengan fermentase probiotik Biovisi Nitro/ Multi dengan dosis 50 ml/ M3 air kolam.
Selanjutnya kalau ada aerator dihidupkan dan dibiarkan minimal 5-7 hari sebelum ditebar bibit.


Biovisi Multi dan Biovisi Nitro


Pemesanan di 089503170460 produk dan pendampingan penggunaan.
Baca Juga
SHARE
Subscribe to get free updates

Related Posts

Post a Comment

Iklan Tengah Post